Senin, 26 Agustus 2013

perkembangan psikologis kaka waktu bayi



KASIH SAYANG UNTUK PUTRAKU
DSC00828.JPG


Karya tulis ini dibuat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT

 



PRAKATA
Assalam
A
lhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rizki kepada kita semua sehingga pada hari ini saya dapat berbagi sedikit ilmu tentang terapi yang hemat untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus ataupun anak yang perkembangannya tidak seperti anak-anak yang lain.
            Memilki buah hati yang sehat, aktif dan cerdas adalah impian setiap orang tua. Sayangnya,  karena beberapa faktor, impian itu bisa diwujudkan. Sang buah hati lahir dengan kelainan yang mengakibatkan gangguan pada kemampuan motorik maupun sensoriknya.
            Banyak orang tua yang sudah memriksakan anaknya ke dokter, namun pergi ke dokter saja tidak cukup. Banyak yang berusaha berkonsultasi lebih lanjut kepada psikolog termasuk saya sudah berkali-kali memeriksakan anak saya ke sana. Ada informasi tentang tips atau terapi yang hemat untuk keluarga yang tidak mampu meriksakan anaknya secara intens. Besar harapan saya, semua oarng tua tidak perlu bingung mencari solusi untuk menangani buah hatinya.
            Satu hal yang penting untuk disadari, bauh hati yang dititipkan pada kita adalah Anugerah-Nya. Bagaimanapun kondisi buah hati kita tak membuat kita berhenti memberikan pasokan kasih sayang kepadanya. Tetaplah memberikan perhatian ekstra yang terbaik bagi buah hati dari awal perkembangan dan pertumbuhannya hingga ia mencapai dewasa. Terakhir, pahamilah bahwa kondisi ini bukan batu ujian melainkan hadiah dari Allah SWT.

Wassalam
1
TAHAP PERKEMBANGAN ANAKKU ( NAUFAL)

K
etika melahirkan seorang bayi, satu hal yang dia inginkan adalah keadaan bayi normal secara fisik maupun mental. Inipun terjadi pada saya, Alloh menganugerahiku seorang anak putra yang sehat dan normal. Namun seiring berjalannya waktu sampai anak saya menginjak usia 11 bulan, dia belum menampakkan tanda-tanda mulai ingin berjalan  maupun berbicara.
            Pada awalnya saya berpikir hanya lambat saja dan anaknya yang berkarakter pendiam. Namun pada usia 18 bulan anak saya masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Seperti : berbicara satu atau dua kata, memanggil mama, berjalan tanpa dibantu, makan nasi. Hal ini tidak terjadi pada putraku, dia selalu tenang, jarang menangis dan belum mampu mengunyah nasi. Justru saya yang lebih sering menangis melihat kondisinya, kenapa dengan anakku?
            Menginjak usia 22 bulan, tepatnya setelah adiknya lahir, dia mulai menampakkan reaksi walaupun kecil. Saya tidak berhenti sampai disini saja karena saya harus ikhtiar ke dokter ahli selanjutnya aku bertawakal kepada Alloh, pasti akan ada hikmah di balik ini semua.
            Yang saya takutkan pada waktu memeriksakannya ke psikolog, sebagian ciri-ciri naufal adalah seperti gejala-gejala autisme yang saya tahu.
           

Gejala autisme adalah :
Pada usia 0- 4 tahun
1. bayi tampak tenang ( jarang menangis)
2. terlalu sensitif.
3. gerakan tangan berlebihan.
4. tidak babbling ( mengoceh )
5.tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan.
6. perkembangan motor kasar dan halus sering tampak normal.
7. sulit bila digendong.
8. menggigit tangan orang lain secara berlebihan.
9. tidak mengeluarkan kata.
10. terdapat keterlambatan motor kasar dan halus.
11.tertarik pada benda tertentu
12. mengeluarkan suara aneh.
13. marah bila rutinitasnya dirubah.
            Akan tetapi gejala diatas belum bisa ditentukan bahwa Naufal itu autisme atau bukan? Karena banyak hal yang membuat saya bingung, saya putuskan akan melakukan terapi sendiri seperti anak-anak autisme, saya hanya mengambil kemungkinan terburuk sebelum anakku menginjak bangku sekolah. Dan jauh di hati saya yakin bahwa anak saya bisa normal seperti anak yang lain, bismillah.
2
TERAPI YANG KULAKUKAN
Semakin dini teratasi semakin cepat pula kita tahu jawabannya untuk “sembuh”. Sebelum terlambat, maka saya melakukan banyak variasi terapi untuk Naufal dengan tujuan dia mampu hidup dan berbaur dengan masyarakat luas. “ kesembuhan “ dipengaruhi oleh berbagi faktor yaitu : gejalanya ringan, kecerdasan cukup, sukup sepat dalan belajar wicara, dan tentu saja intervensi dini yang tepat dan intensif.
Metode atau terapi yang saya lakukan di rumah adalah :
1. Kepatuhan ( compliance ) dan kontak mata, proses membantu anak untuk dapat melakukan kontak mata dan melatih kepatuhan.
2. Chaining adalah mengajarkan suatu perilaku yang kompleks. Sebagai contoh : memakai celana.
3. Discrimination training adalah tahap identifikasi membandingkan 1 item di label yang benar.
4. mengajarkan konsep warna, bentuk, huruf, angka dll.
5. okupasi adalah terapi untuk melatih otot halusnya seperti memegang sendok dengan benar, bersalaman dll.
6. terapi bermain untuk memantapakan proses dirinya. Bisa dilihat keefektifannya, dengna bermain, kita bisa berkomunikasi, bercanda, meningkatkan perkembangan motorik kasar mupun sensoriknya. Ada banyak hal dilakukan saat bermain misalnya :
a. ayo meluncur ! naikan anak pada papan dan letakan di bagian bermain yang agak miring, dengna pemantauan kitan dapat meluncurkannya.
b. permainan keseimbangan : permainan meniti.
c. asyik di taman bermain, kita dapat mengenalkan segala mainan disana, ajaklah untuk menaiki semua permainan.
d.permainan tiba-tiba; ini adalah permainan rencana tiba-tiba dan mengasyikkan. Misalnya kita tiba-tiba mengajaknya ketempat yang dia senangi tapi dengan syarat dia patuh kepada kita. Atau permainan “ BUKA” dan “ TUTUP “.
e. lomba menamai benda. Kita bisa memajang gambar-gambar dna biarkan anak kita yang memberikan nama.
f. lomba menyanyi, untuk mengembangkan kemampuan verbal anak. Mengajarkan anak lagu lagu anak-anak bertahap dari yang pendek kemudian yang panjang.
g. mengenalkan anggota tubuh.
h. menemani menonton televisi, ternagkan lah apa yang dia tonton.
i. permainan pura-pura, kita berpura-pura menjadi pasien dan anak menjadi dokternya.
7. terapi perilaku adalah sikap penghargaan kita untuknya apabila tepat melakukan sesuatu yang kita perintahkan. Misalnya “ ketika anak diminta duduk atau anak mampu untuk menulis  sesuai perintah maka dengan otomatis kita memberikan sikap positif, mengajak “ tos “ atau memberikan bintang untuknya.
8. terapi fisik. Sering mengajaknya berjalan dan berlari. Serta sempatkanlah untuk melompat-lompat di trampolin atau tempat tidur. Hal ini untuk melatih syaraf keseimbangan fisiknya.
9. terapi wicara. Dengan menatap matanya dan menyuruhnya untuk menirukan ucapan kita adalah cara yang tepat untuk menggajaknya dalam berkomunikasi.
10. kasih sayang, ini adalah kunci terapi terakhir. Apabila kita banyak melakukan terapi tanpa disertai kasih sayang, tidak akan berhasil. Orang tua harus ekstra sabar, tak henti berdoa dan bekerja lebih keras lagi.
Yang mesti diketahui adalah setiap anak adalah anugerah dari Alloh dan orangtua manapun harus terus memberikan kasih sayang kepada mereka, bagaimanapun kondisinya. Kasih sayang serta kesabaran ekstra merupakan pendekatan yang kerap diabaikan. Lakukanlah hal yang logis secara ilmu maupun agama. Sebab, anak-anak merupakan titipan yang paling sempurna dari Alloh SWT.
Alhamdulillah setelah melakukan terapi tersebut, anakku mengalami banyak kemajuan pesat seperti : memanggil mama, mau makan nasi, dapat meniti tanpa terjatuh, bisa tertawa lepas ,bisa menyanyi dan mampu menghitung, mampu mengidentifikasi benda, bisa berlari tanpa jatuh, mampu mengontrol dirinya. Lalu saya bawa ke psikolog dan dinyatakan bahwa naufal tidak autis dan hanya ada trauma, Insya Alloh dengan berjalannya waktu seiring dengan mengalirnya terus kasih sayang kita, trauma itu akan hilang. Amin.