KASIH SAYANG UNTUK PUTRAKU

Karya tulis ini dibuat sebagai bentuk
rasa syukur kepada Allah SWT
|
|
PRAKATA
Assalam
|
A
|
lhamdulillah
puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rizki kepada kita semua
sehingga pada hari ini saya dapat berbagi sedikit ilmu tentang terapi yang
hemat untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus ataupun anak yang
perkembangannya tidak seperti anak-anak yang lain.
Memilki buah hati yang sehat, aktif
dan cerdas adalah impian setiap orang tua. Sayangnya, karena beberapa faktor, impian itu bisa
diwujudkan. Sang buah hati lahir dengan kelainan yang mengakibatkan gangguan
pada kemampuan motorik maupun sensoriknya.
Banyak orang tua yang sudah
memriksakan anaknya ke dokter, namun pergi ke dokter saja tidak cukup. Banyak
yang berusaha berkonsultasi lebih lanjut kepada psikolog termasuk saya sudah
berkali-kali memeriksakan anak saya ke sana. Ada informasi tentang tips atau
terapi yang hemat untuk keluarga yang tidak mampu meriksakan anaknya secara
intens. Besar harapan saya, semua oarng tua tidak perlu bingung mencari solusi
untuk menangani buah hatinya.
Satu hal yang penting untuk
disadari, bauh hati yang dititipkan pada kita adalah Anugerah-Nya. Bagaimanapun
kondisi buah hati kita tak membuat kita berhenti memberikan pasokan kasih
sayang kepadanya. Tetaplah memberikan perhatian ekstra yang terbaik bagi buah
hati dari awal perkembangan dan pertumbuhannya hingga ia mencapai dewasa.
Terakhir, pahamilah bahwa kondisi ini bukan batu ujian melainkan hadiah dari
Allah SWT.
Wassalam
1
TAHAP
PERKEMBANGAN ANAKKU ( NAUFAL)
|
K
|
etika
melahirkan seorang bayi, satu hal yang dia inginkan adalah keadaan bayi normal
secara fisik maupun mental. Inipun terjadi pada saya, Alloh menganugerahiku
seorang anak putra yang sehat dan normal. Namun seiring berjalannya waktu
sampai anak saya menginjak usia 11 bulan, dia belum menampakkan tanda-tanda
mulai ingin berjalan maupun berbicara.
Pada awalnya saya berpikir hanya
lambat saja dan anaknya yang berkarakter pendiam. Namun pada usia 18 bulan anak
saya masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Seperti : berbicara
satu atau dua kata, memanggil mama, berjalan tanpa dibantu, makan nasi. Hal ini
tidak terjadi pada putraku, dia selalu tenang, jarang menangis dan belum mampu
mengunyah nasi. Justru saya yang lebih sering menangis melihat kondisinya,
kenapa dengan anakku?
Menginjak usia 22 bulan, tepatnya
setelah adiknya lahir, dia mulai menampakkan reaksi walaupun kecil. Saya tidak
berhenti sampai disini saja karena saya harus ikhtiar ke dokter ahli selanjutnya
aku bertawakal kepada Alloh, pasti akan ada hikmah di balik ini semua.
Yang saya takutkan pada waktu
memeriksakannya ke psikolog, sebagian ciri-ciri naufal adalah seperti
gejala-gejala autisme yang saya tahu.
Gejala
autisme adalah :
Pada
usia 0- 4 tahun
1.
bayi tampak tenang ( jarang menangis)
2.
terlalu sensitif.
3.
gerakan tangan berlebihan.
4.
tidak babbling ( mengoceh )
5.tidak
ada kontak mata diatas umur 3 bulan.
6.
perkembangan motor kasar dan halus sering tampak normal.
7.
sulit bila digendong.
8.
menggigit tangan orang lain secara berlebihan.
9.
tidak mengeluarkan kata.
10.
terdapat keterlambatan motor kasar dan halus.
11.tertarik
pada benda tertentu
12.
mengeluarkan suara aneh.
13.
marah bila rutinitasnya dirubah.
Akan tetapi gejala diatas belum bisa
ditentukan bahwa Naufal itu autisme atau bukan? Karena banyak hal yang membuat
saya bingung, saya putuskan akan melakukan terapi sendiri seperti anak-anak
autisme, saya hanya mengambil kemungkinan terburuk sebelum anakku menginjak
bangku sekolah. Dan jauh di hati saya yakin bahwa anak saya bisa normal seperti
anak yang lain, bismillah.
2
TERAPI
YANG KULAKUKAN
Semakin
dini teratasi semakin cepat pula kita tahu jawabannya untuk “sembuh”. Sebelum
terlambat, maka saya melakukan banyak variasi terapi untuk Naufal dengan tujuan
dia mampu hidup dan berbaur dengan masyarakat luas. “ kesembuhan “ dipengaruhi
oleh berbagi faktor yaitu : gejalanya ringan, kecerdasan cukup, sukup sepat
dalan belajar wicara, dan tentu saja intervensi dini yang tepat dan intensif.
Metode
atau terapi yang saya lakukan di rumah adalah :
1.
Kepatuhan
( compliance ) dan kontak mata, proses membantu anak untuk dapat
melakukan kontak mata dan melatih kepatuhan.
2.
Chaining
adalah mengajarkan suatu perilaku yang kompleks. Sebagai contoh :
memakai celana.
3.
Discrimination
training adalah tahap identifikasi membandingkan 1 item di label yang
benar.
4.
mengajarkan konsep warna, bentuk, huruf, angka dll.
5.
okupasi
adalah terapi untuk melatih otot halusnya seperti memegang sendok dengan benar,
bersalaman dll.
6.
terapi bermain untuk memantapakan proses dirinya. Bisa dilihat
keefektifannya, dengna bermain, kita bisa berkomunikasi, bercanda, meningkatkan
perkembangan motorik kasar mupun sensoriknya. Ada banyak hal dilakukan saat
bermain misalnya :
a.
ayo meluncur ! naikan anak pada papan dan letakan di bagian bermain yang agak
miring, dengna pemantauan kitan dapat meluncurkannya.
b.
permainan keseimbangan : permainan meniti.
c.
asyik di taman bermain, kita dapat mengenalkan segala mainan disana, ajaklah
untuk menaiki semua permainan.
d.permainan
tiba-tiba; ini adalah permainan rencana tiba-tiba dan mengasyikkan. Misalnya
kita tiba-tiba mengajaknya ketempat yang dia senangi tapi dengan syarat dia
patuh kepada kita. Atau permainan “ BUKA” dan “ TUTUP “.
e.
lomba menamai benda. Kita bisa memajang gambar-gambar dna biarkan anak kita
yang memberikan nama.
f.
lomba menyanyi, untuk mengembangkan kemampuan verbal anak. Mengajarkan anak
lagu lagu anak-anak bertahap dari yang pendek kemudian yang panjang.
g.
mengenalkan anggota tubuh.
h.
menemani menonton televisi, ternagkan lah apa yang dia tonton.
i.
permainan pura-pura, kita berpura-pura menjadi pasien dan anak menjadi
dokternya.
7.
terapi
perilaku adalah sikap penghargaan kita untuknya apabila tepat melakukan
sesuatu yang kita perintahkan. Misalnya “ ketika anak diminta duduk atau anak
mampu untuk menulis sesuai perintah maka
dengan otomatis kita memberikan sikap positif, mengajak “ tos “ atau memberikan
bintang untuknya.
8.
terapi
fisik. Sering mengajaknya berjalan dan berlari. Serta sempatkanlah
untuk melompat-lompat di trampolin atau tempat tidur. Hal ini untuk melatih
syaraf keseimbangan fisiknya.
9.
terapi
wicara. Dengan menatap matanya dan menyuruhnya untuk menirukan ucapan
kita adalah cara yang tepat untuk menggajaknya dalam berkomunikasi.
10.
kasih sayang, ini adalah kunci terapi terakhir. Apabila kita banyak
melakukan terapi tanpa disertai kasih sayang, tidak akan berhasil. Orang tua
harus ekstra sabar, tak henti berdoa dan bekerja lebih keras lagi.
Yang
mesti diketahui adalah setiap anak adalah anugerah dari Alloh dan orangtua
manapun harus terus memberikan kasih sayang kepada mereka, bagaimanapun
kondisinya. Kasih sayang serta kesabaran ekstra merupakan pendekatan yang kerap
diabaikan. Lakukanlah hal yang logis secara ilmu maupun agama. Sebab, anak-anak
merupakan titipan yang paling sempurna dari Alloh SWT.
Alhamdulillah
setelah melakukan terapi tersebut, anakku mengalami banyak kemajuan pesat
seperti : memanggil mama, mau makan nasi, dapat meniti tanpa terjatuh, bisa
tertawa lepas ,bisa menyanyi dan mampu menghitung, mampu mengidentifikasi
benda, bisa berlari tanpa jatuh, mampu mengontrol dirinya. Lalu saya bawa ke
psikolog dan dinyatakan bahwa naufal tidak autis dan hanya ada trauma, Insya
Alloh dengan berjalannya waktu seiring dengan mengalirnya terus kasih sayang
kita, trauma itu akan hilang. Amin.