sejenak kadang aku luangkan waktu berhenti berjalan di tengah
keramaian hidupku selama 27 tahun..tidak harus aku terus berlari dan
berteriak, seperti serdadu hidup yang lain..huh,,aku memang masih lebih
beruntung gumamku, sambil aku tatap kaca kaca kehidupanku di sudut
jalan, aku rebahkan kedua bahuku yang sudah tampak melorot (yang jelas
bukan karena usia, mungkin? ato aku memikul beban lebih?) di sebuah
bangku kayu ehm,..nyaman sekali rasanya, tak terlalu panjang cukup untuk
2 orang yang saling memadu kasih ( ada simpul senyum yang hadir diwajah
keriputku saat hati ini mengenang cinta, aneh..aku trus merasa diriku
sangat tua dan rapuh).bangku ini selalu jadi sajadah buatku.tempatku
mengaku dan mengadu mencondongkan sedikit tubuhku untuk bersikap lebih
spiritual. (entah kepada siapa? Tuhan atau berhala yang bernama cinta)
aku hanya seorang hawa yang berusaha mempertahankan energi cinta, dan
mencoba memvisualisasi rinduku yang berada diambang batas kemampuan
melayani perkembangan cintaku dan cintanya. beberapa taun lagi pelabuhan
ini yang aku bangun bukan dengan cara teknik atau intelektual tapi aku
bangun dengan rasa dan kasih siap menyambutnya. kemarin aku kirimkan
surat ekspetasi ekspetasiku kepadanya untuk membantu menyeberangkan
cintanya. aku berharap dirinya mampu mengeksplorasi lautan cinta yang
mendidih dan bertemu denganku, apa yang aku rsa salah? yang jelas aku
tidak membutuhkan pembenaran, aku lebih memilih untuk dihukum
mempertahankan cintaku yang antagonistis daripada harus mereduksi
kasihku padanya. sungguh aku sangat mencintainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar