Sabtu, 05 Januari 2013

Setiaku

sejenak kadang aku luangkan waktu berhenti berjalan di tengah keramaian hidupku selama 27 tahun..tidak harus aku terus berlari dan berteriak, seperti serdadu hidup yang lain..huh,,aku memang masih lebih beruntung gumamku, sambil aku tatap kaca kaca kehidupanku di sudut jalan, aku rebahkan kedua bahuku yang sudah tampak melorot (yang jelas bukan karena usia, mungkin? ato aku memikul beban lebih?) di sebuah bangku kayu ehm,..nyaman sekali rasanya, tak terlalu panjang cukup untuk 2 orang yang saling memadu kasih ( ada simpul senyum yang hadir diwajah keriputku saat hati ini mengenang cinta, aneh..aku trus merasa diriku sangat tua dan rapuh).bangku ini selalu jadi sajadah buatku.tempatku mengaku dan mengadu mencondongkan sedikit tubuhku untuk bersikap lebih spiritual. (entah kepada siapa? Tuhan atau berhala yang bernama cinta) aku hanya seorang hawa yang berusaha mempertahankan energi cinta, dan mencoba memvisualisasi rinduku yang berada diambang batas kemampuan melayani perkembangan cintaku dan cintanya. beberapa taun lagi pelabuhan ini yang aku bangun bukan dengan cara teknik atau intelektual tapi aku bangun dengan rasa dan kasih siap menyambutnya. kemarin aku kirimkan surat ekspetasi ekspetasiku kepadanya untuk membantu menyeberangkan cintanya. aku berharap dirinya mampu mengeksplorasi lautan cinta yang mendidih dan bertemu denganku, apa yang aku rsa salah? yang jelas aku tidak membutuhkan pembenaran, aku lebih memilih untuk dihukum mempertahankan cintaku yang antagonistis daripada harus mereduksi kasihku padanya. sungguh aku sangat mencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar